Tuesday, April 16, 2013

Filosofi

Tidak ada pahlawan sejati yang besar yang tidak mempunyai struktur filosofi yang solid dan kuat. Filosofi adalah sebuah ruang kecil dalam kepribadian kita darimana seluruh tindakan diarahkan dan dikontrol. Tindakan-tindakan kepahlawanan. Orang-orang yang tidak mempunyai pikiran-pikiran kepahlawanan. Orang-orang yang tidak mempunyai pikiran-pikiran besar tidak akan terarahkan untuk melakukan tindakan-tindakan kepahlawanan.

Filosofi adalah kerangka pikiran yang terbentuk sedemikian rupa dalam diri kita dan berfungsi memberi kita ruang bagi semua tindakan yang "mungkin" kita lakukan. Semakin luas "kerangka berfikir" itu, semakin luas "wilayah tindakan" yang mungkin kita lakukan. Saya menyebutnya "wilayah kemungkinan". Setiap tindkan yang mempunyai wujud dalam pikiran kita akan segera masuk dalam wilayah kemungkinan. Pada saat sebuah tindakan masuk dalam wilayah kemungkinan itu, kita akan segera merasakan sesuatu yang ingin saya sebut sebagai "perasaan berdaya". Yaitu semacam keyakinan yang menguasai jiwa kita bahwa kita "mampu" melakukannya. Keyakinan itu saja sudah memadai untuk merangsang dorongan dari dalam jiwa kita untuk melakukannya. Begitulah akhirnya "tekad" terbentuk. Dan tekad seperti ini adalah "power" karena ia lahir dari perasaan berdaya.

Filosofi terbentuk dalam diri kita sebagai kumulasi dari kerja-kerja imajinatif. Adapun imajinasi itu sendiri merupakan bagian dari fungsi pikiran dan emosi sekaligus. Itu merupakan proses yang paling sublim dalam diri kita, tetapi sekaligus merupakan tahapan kreativitas yang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian kita. Seperti ketika kita menyusun kata menjadi kalimat, atau memadaukan warna menjadi gambar, atau menyerap selera ke dalam desain, seperti itulah imajinasi mempertautkan anak-anak pikiran menjadi sebuah filosofi.

Sebagian dari yang terekam dalam filosofi itu adalah cara memaknai suatu sisi kepahlawanan. Misalnya, cara Khalid bin Walid memaknai Jihad atau peperangan yang menjadi sisi kepahlawanannya. Ia pernah mengatakan, "Berada pada suatu malam yang sangat dingin untuk berjihad di jalan Allah lebih aku senangi daripada mendapatkan hadiah seorang pengantin perempuan cantik di malam pengantin".

Atau misalnya, cara Amr bin Ash memaknai keterampilan politik seorang pemimpin: "Jika sesorang pemimpin tahu bagaimana memasuki suatu urusan, maka ia harus tahu juga bagaimana keluar dari urusan itu. Sesempit apapun jalan keluar yang tersedia."

Atau misalnya, cara Umar bin Khathab memaknai akseptabilitas seorang pemimpin di mata Allah dalam sebuah pesannya kepada para pejabat di masa kekhilafahannya, "Ketahuilah kedudukan Anda di mata Allah dengan cara melihat tingkat penerimaan masyarakat kepada anda."

Akan tetapi, filosofi juga membicarakan harapan-harapan kita, arti kehormatan, sumber motivasi, apa-apa yang kita suka dan kita benci, proses pemaknaan terhadap sesuatu, fungsi keterampilan kepribadian, dan seterusnya. Pada akhirnya apa digambarkan oleh filosofi itu adalah keseluruhan kepribadian kita. Dan itulah kunci kepribadian kita.


Bias Penghambaan

Diantara kejujuran rasa dan kebenaran kata bias ada yang perlu kita renungi. Ini semacam bibir tipis yang membedakan dua jenis cinta: cinta misi dan cinta jiwa. Sebegitu tipisnya sampai hanya sedikit orang yang bisa melihatnya.

Bias itu ada disini: bahwa karena cinta adalah sumber energi maka ia selalu berujung tindakan, dan setiap tindakan selalu punya motif. Bias itu adalah motif: antara motif memberi dan motif mengabdi. Secara keseluruhan ubudiyah harus menjadi motif pada cinta misi dan cinta jiwa. Sementara memberi adalah penampakannya. Tapi penampakan dalam bentuk memberi lebih merata dalam varian-varian cinta jiwa ketimbah cinta misi. Pada sebagian varian cinta misi penampakannya bahkan juga berbentuk penghambatan.

Sempai disini biasnya mungkin belum terlalu jelas. Sebab bias terjadi ketika muncul penyimpangan dimana motif ubudiyah kepada Allah berubah menjadi ubudiyah kepada objek-objek cinta jiwa dan sebagian objek cinta misi. Yang terakhir ini misalnya terlihat pada lagu-lagu cinta tanah air. Misalnya, lagu Padamu Negeri.

Contoh itu pada cinta jiwa lebih banyak lagi. Misalnya pada lagu-lagu pemujaan pada sang kekasih. Atau pada ratapan atas kematian atau kepergian sang kekasih. “Tiada guna aku hidup begini, tanpa dirimu kekasih yang aku sayangi,” kata Tommy J Pisa dulu.

Bias begini biasanya terjadi dipuncak gelora cinta yang mulai tidak terkendali. Semacam orgasme emosional yang meledak seketika dimana realitas untuk sesaat lenyap. Tapi begitu kita sadar dan kembali menatap realitas, seketika kita sadar kalau kita baru saja mabuk.

Ada cinta yang bisa membunuh, kata pepatah arab. Tapi disini ada cinta yang bikin kita jadi syirik. Ini tidak selalu karena kita kehilangan kendali akal sehat. Tapi terutama karena kita kehilangan kendali prinsip dan nilai.

Di saat itu hanya ada kenikmatan imajiner. Tidak ada pemaknaan spritual. Selalu ada pemisahan yang miris antara imaji dan realita; setiap satu teguk air disini hanya menimbulkan satu dahaga baru. Inilah sejatinya derita para pecinta yang menelan bias ini. Tegukan khamar pertama adalah kenikmatan. Tapi tegukan kedua dan ketiga adalah obat, kata penyair Arab. Tidak ada lagi kenikmatan. Yang ada hanya obat. Ya, hanya obat. Karena tegukan-tegukan itu telah berubah menjadi ketergantungan. Lalu penghambaan.

Maka menarilah mereka diatas luka. Bukan karena tariannya indah. Tapi itu jeritan dari luka yang membuat mereka melompat dan menari. Lalu melompat dan menari lagi. Menyanyikan lagu tentang jiwa yang lelah dan harus mengakhiri riwayat cintanya dengan kesia-siaan. Miris. Menyakitkan. Dan selalu begitu; mulanya hanya bias kecil, tetapi diujung sana ada luka besar yang sudah menganga lebar dalam kehidupan para pecinta.

Miris. Semiris ratapann Ebiet G Ade; “Adakah angin gunung mendengar keluhanku.”.


Sumberhttp://serialcinta.blogspot.com/search/label/Bias%20Penghambaan

Kegagalan

Jangan pernah menyangka bahwa seseorang pahlawan selalu meraih prestasi-prestasinya dengan mulus, atau bahkan tidak pernah mengenal kegagalan. Kesulitan-kesulitan adalah rintangan yang diciptakan oleh sejarah dalam perjalanan menuju kepahlawanan. Karena itu, peluang kegagalan sama besarnya dengan peluang keberhasilan. “Kalau bukan karena kesulitan, maka semua orang akan menjadi pahlawan,” kata seorang penyair Arab, Al-Mutanabbi.

Membebaskan konstantinopel bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pemuda berusia 23 tahun setangguh Muhammad Al-Fatih Murad. Pembebasan pusat kekuasaan Imperium Romawi itu, kata orientalis Hamilton gibb, adalah mimpi delapan abad dari kaum muslimin. Semua serangan gagal meruntuhkan perlawanan kota itu sepanjang abad-abad itu. Dan serangan-serangan awal Muhammad Al-Fatih Murad juga mengalami kegagalan. Kegagalan itu sama dengan kegagalannya sebagai pemimpin negara, ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan kepadanya.

Akan tetapi, bila Muhammad Al-Fatih kemudian berhasil merebut kota itu, kita memang perlu mencatat pelajaran ini: “Bagaimana seorang pahlawan dapat melampaui kegagalan-kegagalannya dan merebut takdirnya sebagai pahlawan?”

Rahasia pertama adalah mimpi yang tidak selesai. Kegagalan adalah perkara teknis bagi sang pahlawan. Kegagalan tidak boleh menyentuh sedikit pun wilayah mimpinya. Mimpi tidak boleh selesai karena kegagalan. “Dan tekad seperti ini akan merubah rintangan dan kesulitan menjadi sarana mencapai tujuan,” kata Said bin Al-Musayyib.

Begitulah, tekad mereka melampaui kegagalan, sampai rintangan yang menghadang jalannya tak sanggup menatap tekadnya, maka ia tunduk, lalu memberinya jalan menuju penghentian terakhir dari mimpinya. “Kalau tekad seseorang benar adanya, maka jalan menuju tujuannya pastilah jelas,” kata pepatah Arab.

Rahasia kedua adalah semangat pembelajaran yang konstan. Seorang pahlawan tidak pernah memandang dirinya sebagai Superman atau Malaikat. Ia tetaplah manusia biasa. Dan kegagalan merupakan bagian dari tabiat kehidupan manusia, maka ia “memaafkan” dirinya untuk kegagalan itu. Namun, ia tidak berhenti sampai disitu. Kegagalan adalah objek pengalaman yang harus dipelajari, untuk kemudian dirubah menjadi pintu kemenangan. Demikianlah seharusnya kita mendefenisikan pengalaman: bahwa ia adalah investasi pembelajaran yang membantu proses penyempurnaan seluruh faktor keberhasilan dalam hidup.

Rahasia ketiga adalah kepercayaan pada waktu. Setiap peristiwa ada waktunya, maka setiap kemenangan ada jadwalnya. Ada banyak rahasia yang tersimpan dalam rahim sang waktu, dan biasanya tidak tercatat dalam kesadaran kita. Akan tetapi, para pahlawan biasanya mempunyai cara lain untuk mengenalinya, atau setidaknya meraba-rabanya, yaitu firasat. Mereka “memfirasati zaman” walaupun ia mungkin benar mungkin salah, tetapi ia berguna untuk membentuk kecendrungannya. Firasat bagi mereka adalah faktor rasional. Perhitungan-perhitungan rasional harus tetap ada, tetapi keputusan untuk melangkah pada akhirnya bersifat intuitif. Begitulah akhirnya takdir kepahlawanan terjembatani dengan firasat untuk sampai ke kenyataan.


Biar Dramatisasi Jadi Manis

Puisi yang terlalu seadanya memang tidak memberi rasa apa-apa. Puisi perlu greget. Perlu hentakan. Perlu dramatisasi. Begitu juga ungkapan cinta. Cinta hanya bekerja kalau ia membara. Dan beranya meletup-letup lewat kata.

Qur'an tidak mengingkari itu. Virus penyair yang disebut Qur'an sebenarnya terletak pada kadar kebohongan yang sering menyertai dramatisasi itu. Begitu juga ungkapan rasa cinta yang terlalu berlebihan sering mengandung kebohongan. Bisa karena tidak berakar dihati. Bisa juga kerena memang tidak mengandung kebenaran. Mungkin juga berakar dihati, tapi tidak mengandung kebenaran. Atau mengandung kebenaran, tapi tidak berakar dihati. Yang benar tapi tidak ada dihati adalah kebohongan. Yang tidak benar tapi ada dihati adalah kesalahan. Yang terakhir ini misalnya lagu berikut:

semua yang ada padamu
oh membuat diriku tidak berdaya
hanyalah untukmu
hanyalah bagimu
seluruh hidup dan cintaku

ungkapan itu mungkin memang berakar dihati. Tapi mengandung makna pengabdian dan penyerahan diri yang total kepada sang kekasih. Dan itu tidak boleh terjadi dalam cinta jiwa atau cinta sesama manusia. Itu hanya untuk Allah SWT.

Di sinilah letak tantangan bagi para pecinta; bagaimana menemukan ungkapan yang benar dan tepat bagi bara cinta yang meletup-letup dalam jiwa? Yang pertama tentu saja memastikan persoalan dasarnya; apakah memang ada bara dalam jiwa? Ini jelas sangat mendasar untuk memastikan bahwa “tidak ada dusta diantara kita”.

Yang kedua adalah menemukan kata yang benar dan tepat. Benar pada maknanya, tapi tepat melukiskan suasana jiwa. Ini membutuhkan penghayatan jiwa yang dalam, keakraban dengan diri sendiri yang kental, cita rasa keindahan dan kekayaan bahasa.

Melukis bara cinta dalam jiwa memang membutuhkan kata yang kuat agar baranya nyata dalam pandangan sang kekasih. Tapi kita harus menakar dengann objektif, seberapa panas bara yang hendak kita lukis. Ini untuk memastikan bahwa kata tidak melampaui panasnya bara, atau kata tidak melukis semua panas bara secara utuh.

Akhirnya memang, kejujuran dan kebenaran adalah kata kunci di balik semua dramatisasi cinta yang manis. Hanya itu. Jika tidak, pasti akan ada kesalahan dalam bahasa cinta kita. Tidak mudah memang, tapi begitulah cinta; selalu punya syaratnya sendiri.


Sumber : http://serialcinta.blogspot.com/search/label/Biar%20Dramatisasi%20Jadi%20Manis

Keberanian

Saudara yang paling dekat dari naluri kepahlawanan adalah keberanian. Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati. Tidak akan pernah seseorang disebut pahlawan, jika ia tidak pernah membuktikan keberaniannya. Pekerjaan-pekerjaan besar atau tantangan-tantangan besar dalam sejarah selalu membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya dengan pekerjaan dan tantangan itu. Sebab, pekerjaan dan tantangan besar itu selalu menyimpan resiko. Dan, tak ada keberanian tanpa resiko.

Naluri kepahlawanan adalah akar dari pohon kepahlawanan. Akan tetapi, keberanian adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan resiko yang akan diterimanya.

Cobalah perhatikan ayat-ayat jihad dalam Al-Quran. Perintah ini hanya dapat terlaksana di tangan para pemberani. Cobalah perhatikan betapa Al-Quran memuji ketegaran dalam perang, dan sebaliknya membenci para pengecut dan orang-orang yang takut pada resiko kematian. Apakah yang dapat kita pahami dari hadis riwayat muslim ini, "Sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada dibawah naungan pedang?" Adakah makna lain, selain dari kuatnya keberanian akan mendekatkan kita ke surga? Maka, dengarkanlah pesan Abu Bakar kepada tentara-tentara Islam yang berperang, "Carilah kematian, niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan."

Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang. Sebagian yang lain biasanya diperoleh melalui latihan. Keberanian, baik yang bersumber dari fitrah maupun melalui latihan, selalu mendapatkan pijakan yang kokoh pada kekuatan kebenaran dan kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat terhadap dan jalan hidup, kepercayaan pada akhirat, dan kerinduan yang menderu-deru kepada Allah. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin. Bahkan, meskipun kondisi fisiknya tak terlalu mendukungnya, seperti jenis keberanian Ibnu Masud dan Abu Bakar. Sebaliknya, ia bisa menjadi lebih berani dengan dukungan fisik, seperti keberanian Umar, Ali, dan Khalid.

Akan tetapi, Islam hendak memadukan antara keberanian fitrah dan keberanian iman. Maka, beruntunlah ajaran-ajarannya menyuruh umatnya melatih anak-anak untuk berenang, berkuda, dan memanah. Dengarlah sabda Rasulullah saw, "Ajarilah anakmu berenang sebelum menulis. Karena ia bisa diganti orang lan jika ia tak pandai menulis, tapi ia tidak dapat diganti orang lain jika ia tak mampu berenang."

Dengar lagi sabdanya, "Kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada memenah, kekuatan itu pada memanah." Itu semua sekelompok keterampilan fisik yang mendukung munculnya keberanian fitrah. Tinggal lagi keberanian iman. Maka, dengarlah nasihat Umar, "Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani."

Dan kepada orang-orang Romawi yang berlindung di balik benteng di Kinasrin, Khalid berkata, "Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian. Andaikata kalian berada di perut bumi, niscaya kami akan menyelami bumi untuk membunuh kalian. " Roh kebereranian itu pun memadai untuk mematikan semangat perlawanan orang-orang Romawi. Mereka takluk. Mungkinkah kita mendengar ungkapan itu lagi hari ini?


Sumber : http://serialkepahlawanan.blogspot.com/search/label/Keberanian

Akhir Sejarah Cinta Kita

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita tidur saling memunggungi
tapi jiwa berpeluk-peluk
senyum mendekap senyum

suatu saat alam sejarah cinta kita
raga tak lagi saling membutuhkan
hanya jiwa kita sudah melekat dan menyatukan
rindu mengelus rindu

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita hanya mengisi waktu dengan cerita
mengenang dan hanya itu
yang kita punya

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita mengenang masa depan kebersamaan
kemana cinta akan berakhir
disaat tak ada akhir.


Musibah

Seperti juga kegagalan, ada bentuk lain dari rintangan yang menghadang seorang pahlawan. Musibah. Yang dimaksud musibah disini adalah semua bencana yang menimpa sesorang yang mempengaruhi seluruh kepribadiannya dan juga jalan hidupnya. Misalnya, kematian orang terdekat seperti yang dialami Rasulullah saw saat meninggalnya Khadijah ra dan Abu Thalib. Yang sangat berat dari musibah-musibah itu adalah menimpa fisik dan mempengaruhi ruang gerak seorang pahlawan. Misalnya, kebutaan, ketulian, atau kelumpuhan. Kenyataan seperti ini tentu saja membatasi ruang gerak dan menciptakan keterbatasan-keterbatasan lainnya.

Namun, masalahnya sesungguhnya bukan disitu. Inti persoalannya ada pada goncangan jiwa yang mungkin ditimbulkan oleh musibah tersebut. Goncangan jiwa itulah yang biasanya mengubah arah kehidupan seseorang. Sebab, musibah itu mungkin menghilangkan kepercayaan dirinya, membabat image dirinya ditengah lingkungannya, membabat habis harapah-harapan dan ambisi-ambisinya serta menyemaikan keputusasaan dalam dirinya. Jalan yang dihadapannya seperti menjadi buntu dan langit kehidupan menjadi gelap, maka mimpi kepahlawanannya seperti gugur satu demi satu.

Akan tetapi, para pahlawan selalu menemukan celah dibalik kebuntuan, dan memiliki secercah cahaya harapan dibalik gelapnya kehidupan. Yang pertama mereka lakukan saat musibah itu datang adalah mempertahankan ketenangan. Sebab, inilah akar keseimbangan jiwa yang membantu seseorang melihat panorama hidup secara proposional. Keseimbangan jiwa inilah yang membuat seseorang tegar didepan goncangan-goncangan hidup.

Yang kedua adalah mempertahankan harapan. Sebab, harapan, kata Rasulullah saw, adalah rahmat Allah bagi umatku. Jika bukan karena harapan, takkan ada orang yang mau menanam pohon dan takkan ada ibu yang mau menyusui anaknya. Harapan adalah buah dari kepercayaan kepada rahmat Allah SWT dan juga kepada kemampuan Allah SWT melakukan semua yang ia kehendaki.

Yang ketiga adalah mempertahankan keberanian. Dan keberanian adalah buah dari kepercaan diri yang kuat dan juga anak yang lahir dari tekad baja. Keberanian dibutuhkan untuk menembus keterbatasan-keterbatasan pada ruang gerak dan hambatan yang tercipta akibat perubahan pada image.

Yang keempat adalah mempertahankan semangat kerja di tengah keterbatasan-keterbatasan itu. Dalam banyak kasus, keterbatasan-keterbatasan justru membantu memberikan fokus pada arah dan target serta konsentrasi yang kuat. Yang kita lakukan disini adalah memenuhi ruang yang tersedia dengan amal dan karya.

Begitulah para pahlwan mensiasati musibah. Maka, kebutaan tidak dapat menghambat Syeikh Abdul Aziz bin Baz merebut takdirnya sebagai ulama besar abad ini. Ketulian juga gagal mencegat perjalanan Mustafa Shadiq Al-Rafi'i menuju puncak, sebagai salah satu sastrawan muslim terbesar abad ini. Dan kelumpuhan menyerah didepan tekad baja Syeikh Ahmad Yasin yang menjadi mujahid besar abad ini, bukan saja dalam melawan kebiadaban israel, tetapi bahkan menentang dunia.


Sumber : http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/musibah.html

Bersatu di Tengah Badai

Satu persen prajurit itu gugur. Mereka berempat. Semua syahid. Tapi semua hidup. Sebab memang semua syuhada tidak mati dimata Allah. Mereka ada disana, disisi Allah menikmati limpahan karunia-Nya. Sebab mereka Syahid justru karena mereka ingin memberi kesempatan kepada saudaranya untuk hidup.

Itu cerita tentang empat sahabat Rasulullah saw yang sama-sama kehausan dalam suatu pertempuran. Tapi air yang tersedia tidak cukup untuk mereka berempat. Maka masing-masing mereka mendahulukan saudaranya. Sampai gelas itu berkeliling tanpa satu pun yang minum. Begitu ia sampai pada prajurit pertama, ternyata ia sudah syahid. Begitu juga yang kedua, ketiga dan keempat. Itu “itsar” dalam bahasa agama kita. Semua gugur jadi syuhada. Semua tegak jadi saksi cinta.

Bisa. Bisa. Kita bisa menunjukan keluhuran tertinggi semacam itu di saat yang paling sulit. Itu bukan sekedar cerita cinta yang hanya bisa diriwayatkan dalam sahabat-sahabat Rasulullah saw. Kita bisa meriwayatkannya juga dalam kehidupan kita. Seperti pada badai tsunami lalu. Kita bisa bersatu atas nama cinta: maka ketika badai meluluhlantakan Serambi Mekah, cinta mengalir kesana lebih dahsyat. Kita bahkan tidak pernah punya sejarah cinta sebagai sebuah bangsa seperti pada peristiwa tsunami itu.

Sebab ketika Allah mempersaudarakan orang-orang beriman, ia hanya ingin mangatakan bahwa komunitas sosial kita harus diikat dengan cinta yang lahir dari iman. Hanya dengan begitu kita bisa menentukan kekuatan perekat abadi, tembus masa dan ruang, dan bebas dari berbagai perubahan situasi. Disaat persatuan bangsa dipertaruhkan di tengah badai alam atau politik atau ekonomi atau sosial atau keamanan, cinta adalah satu-satunya jawaban.

Cinta yang besarlah yang memungkinkan Rasulullah saw menyatukan para penghuni jazirah Arab yang normad, badui dan buta huruf serta tumbuh dalam struktur sosial berbasis kabilah yang kompleks. Seperti ketika Rasulullah saw menyatukan suku Aus dan Khazraj yang terseparasi dalam perang selama 40 tahun, serta menjadikan mereka semua sebagai kaum Anshar, yang kelak menyatu dengan Muhajirin dari suku Quraisy. Bahkan ketika “kearifan politik” menurut beliau memberikan semua harta rampasan perang kepada kaum Quraisy yang baru saja masuk islam, yang terkesan “tidak adil” di hati kaum Anshar, Rasulullah saw hanya memberikan jawaban cintanya: “Bisakah kalian rela bahwa jatah kalian adalah Rasulullah saw?” Fathu Makkah bahkan tidak lagi menggoda beliau untuk kembali ke Makkah. Raganya ada di Madinah. Hatinya ada di dalam hati kaum Anshar. Kaum Anshar menangis. Cinta menghadirkan makna lain dalam kehidupan sosial politik kita. Dan mengangkat kita ke ketinggian ruh yang mungkin sulit dijangkau oleh kepentingan sesaat.

Masih mungkin! Masih mungkin kita menyatukan bangsa yang terdiri dari 300 suku dan bahasa. Bahkan juga bangsa-bangsa dunia Islam. Dengan cinta. Cinta misi. Dan hanya itu.


Sumber : http://serialcinta.blogspot.com/search/label/Bersatu%20di%20Tengah%20Badai

Patung dan Pondasi

Dikisahkan di sebuah kota kecil, berdiri patung yang sangat indah. Sebuah patung yang merupakan karya besar seorang seniman hebat pada masanya. Keindahan patung tersebut mengundang decak kagum orang-orang yang melihatnya.

Berbagai pujian terhadap keindahannya yang seakan mengalir tanpa henti membuat patung tersebut merasa bangga atas keberadaan dirinya. Semakin banyaknya pujian yang ditujukan kepadanya, membuat rasa bangga dalam diri patung tersebut berkembang menjadi sikap sombong.

“Lihatlah wahai pondasi, keindahan yang terpancar dari bentuk diriku ini menimbulkan kekaguman dari orang-orang yang melihatnya” kata patung tersebut kepada pondasinya.
“Jangan lupa diri, sang patung. Segala keindahan yang muncul dari dirimu itu adalah hasil kerja keras seniman yang memahatmu dan para ahli bangunan yang membangun pondasi kokoh ini,” jawab pondasi.

Mendengar jawaban pondasi, sang patung pun berkata dengan ketus, “Pendapatmu itu hanya muncul dari rasa iri karena tidak adanya orang yang memuji bentuk dirim. Tanpa keberadaan dirimu pun, aku tetaplah sebuah patung yang indah” lanjut sang patung.

Semakin lama, sikap patung itu pun semakin sombong. Hingga suatu hari, sang patung berkata kepada pondasi dengan nada menantang, “Hai pondasi! Dapatkah kau membuktikan pendapatmu bahwa keindahan bentuk diriku ini didukung oleh keberadaanmu?”

Awalnya pondasi tidak menanggapi tantangan tersebut. Tapi karena kesombongan patung semakin menjadi-jadi, pondasi berniat memberi pelajaran kepada patung. Pondasi pun memisahkan diri dari sang patung. Tanpa adanya pondasi yang mendukungnya, patung itu pun roboh dan hancur. Kini, patung tersebut telah menjadi bongkahan-bongkahan yang tercecer dan tidak ada seorangpun yang mengagumi bentuknya.

Resep Mempertahankan Cinta

Dikisahkan, di sebuah keluarga besar, ada sepasang kakek yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, para cucu bertanya mendatangi mereka berdua.

“Kakek, nenek...., tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara mempertahankan cinta selama ini, agar kami yang masih muda ini bisa belajar,” kata seorang cucu.

Mendengar itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyuman mengasihi yang begitu kentara menyelimuti di antara mereka. “Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian,” kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai. “Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik”.

“Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘Bagaimana Memperkuat Tali Pernikahan’. Di situ dituliskan, masing-masing dari kita sebaiknya mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai.

Esoknya, selesai sarapan, Nenek memulai lebih dulu membacakan daftar ‘dosa’ kakekmu sepanjang kurang-lebih tiga halaman. Pikir-pikir, ternyata banyak juga ya dan herannya lagi, segitu banyak yang tidak disukai tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini,” kata nenek sambil tertawa sekaligus mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu lanjut nenek, “Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan! Dan Sekarang giliran kakekmu yang lanjut bercerita”.

Dengan suara perlahan,si kakek meneruskan, “Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetap kosong. Kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek.”

Nenek segera melanjutkan, “Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apapun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua”.

-Andrie Wongso-
Sumber : 
http://www.andriewongso.com/articles/details/10287/Resep-Mempertahankan-Cinta

Friday, April 12, 2013

Nilai Kelulusan

Alkisah, di suatu sore hari di sebuah perguruan kungfu, tampak seorang murid yang masih muda berlutut di hadapan sang guru untuk melakukan uji terakhir sebelum turun gunung. Pelajaran kehidupan, latihan keras, dan disiplin tinggi yang telah dijalaninya selama ini akhirnya mampu diselesaikan dengan baik.

“Muridku, sebelum diizinkan untuk turun gunung, kamu harus lulus satu ujian lagi,” kata sang guru besar.

“Saya siap Guru,” jawab si murid yang menduga harus menjalani satu ronde adu tanding bela diri lagi.

“Kamu harus menjawab pertanyaan saya. Bagi kamu, apa arti tanda kelulusan yang akan saya berikan ini?”

“Bagi saya, tanda kelulusan adalah akhir dari perjalanan saya,” jawab si murid dengan nada bangga.

Sang guru terdiam, seakan menunggu kata-kata lain dari muridnya itu. Jelas sekali dia tidak puas dengan jawaban yang diberikan muridnya. Akhirnya, sambil menghela napas, sang guru berkata, ”Kamu belum siap menerima tanda kelulusan dari perguruan ini. Berlatihlah kembali dan pikirkan baik-baik. Kembalilah kemari satu bulan lagi.”

Sebulan kemudian, si murid datang dan berlutut lagi di hadapan sang Guru. “Muridku, setelah berpikir dan berlatih di sini selama ini, apa arti sesungguhnya dari tanda kelulusan yang diberikan kepada kamu?” tanya sang guru.

“Artinya adalah simbol kehormatan dan pencapaian tertinggi dalam seni bela diri di perguruan ini,” jawab si murid.

Sambil menggeleng lemah, sang guru berkata, “Sayang sekali, kamu belum siap turun gunung dan menerima tanda kelulusan. Kembalilah satu bulan lagi.”

Satu bulan berlalu, Dan sekali lagi guru besar bertanya, “Muridku, saya tidak bisa melepas kepergianmu sebelum kamu memiliki pengertian benar dengan menjawab pertanyaan terakhir ini. Apa arti sesungguhnya tanda kelulusan ini?”

“Setelah merenung dengan sungguh-sungguh selama satu bulan ini, saya menyadari, tanda kelulusan bukanlah akhir perjalanan tetapi justru awal dari dimulainya perjalanan tanpa akhir dari disiplin, kerja keras untuk mengamalkan prinsip-prinsip yang telah diajarkan di perguruan selama ini,” jawab si murid dengan mantap dan sikap yang lebih dewasa.

Dengan wajah gembira, sambil mengangguk-anggukkan kepala, sang guru besar berkata: “Sekarang kamu sudah siap menerima tanda kelulusan ini dan memulai kerja kerasmu di luar perguruan ini. Semoga kamu berhasil!”

Menyerah Terlalu Cepat

Alkisah, ada seorang pelukis terkenal di sebuah negeri. Suatu hari dia kedatangan seorang tamu pria yang sudah lanjut usianya. Orangtua itu membawa beberapa sketsa yang ingin diperlihatkan kepada pelukis besar tersebut untuk meminta pendapat dan penilaian apakah sketsa itu bernilai, atau setidak-tidaknya menyatakan seberapa besar bakat potensial dari pembuatnya.

Sekilas, dilihatnya sketsa berbagai bentuk dan jenis hewan di hadapannya. Karena keahliannya, dalam waktu sekejap saja, pelukis besar itu sudah dapat menilai apakah sketsa atau lukisan kasar itu memiliki nilai artistik atau sebaliknya tidak berharga sama sekali. Dengan tutur sapa yang lembut dan halus, si pelukis ternama menyampaikan bahwa sketsa yang diperlihatkan tamunya itu kurang begitu berharga dan kurang memperlihatkan bakat seni. Tak lupa, sang seniman meminta maaf atas pendapatnya yang mungkin menyakiti tamunya. Akan tetapi dalam hal ini, dia tidak bisa membohongi kenyataan dan pendapatnya.

Orang tua itu tertunduk lesu dan tampak kecewa. Kemudian dia mengeluarkan map yang lain, sambil memohon agar si pelukis mau melihat beberapa sketsa dan lukisan lain yang dibawanya, yang merupakan karya seorang pemuda dari suatu sanggar seni rupa. Kali ini, si pelukis besar melihat berbagai jenis sketsa dan juga pemandangan.

Setelah memperhatikan dengan lebih seksama beberapa lukisan berikutnya, si pelukis tampak sangat tertarik dengan bakat seni yang terlihat di lukisan itu, “Ini.. Oh ini bagus sekali! Sangat detail dan memiliki sudut pandang yang unik. Anak muda ini memiliki bakat besar. Ia harus dibantu dan didorong dalam kariernya sebagai seorang pelukis. Dia memiliki masa depan yang cerah jika dia tekun melatih kemampuan dan tekniknya ini, serta setia pada apa yang menjadi cita-citanya sebagai seorang pelukis.”

Mendengar komentar itu, bapak tua tersenyum gembira, “Terima kasih atas penilaian dan penghargaan Anda.”

“Siapa gerangan pelukis muda yang berbakat ini?” tanya si pelukis “Apakah dia putra bapak?”

“Bukan,” jawab si bapak dengan muka dan nada suara sedih. “Lukisan yang terakhir Anda lihat itu adalah coretan tanganku dua puluh tahun silam. Jika saja aku bisa mendengar komentar positif Anda pada saat itu…. Sayangnya, aku berkecil hati, kurang percaya diri dan berhenti terlalu cepat dalam menekuni aliran seni lukis itu.” Lalu dia melanjutkan, “Yakh, setidaknya aku telah mendapat satu pelajaran di kehidupan ini, jangan cepat menyerah apalagi saat mendengarkan komentar negatif dari orang lain. Selagi kita mau belajar, perubahan dan kemajuan bisa kita dapatkan. Terima kasih atas pertemuan ini.” Dan mereka pun berpisah..

Beri Kesempatan Pada Diri Sendiri

Suatu hari, di tepian sebuah sungai, tampak dua orang kakak beradik sedang bercanda dengan riangnya. Tiba-tiba, karena kurang hati-hati dan tanpa disengaja, si adik terjatuh ke dalam sungai yang cukup dalam, padahal mereka berdua tidak bisa berenang. Sambil berteriak-teriak ketakutan, si kakak meminta tolong. Akan tetapi datangnya pertolongan terlambat. Saat ditemukan, si adik telah terbujur kaku tidak bernyawa lagi.

Kedua orangtuanya, sanak saudara serta orang-orang di sana, walaupun merasa berduka karena meninggalnya si adik, tetapi mereka tidak menyalahkan si kakak. Mereka menerima musibah itu dengan lapang dada dan menganggap bahwa semua itu sudah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa.

Namun, berbeda dengan si kakak. Sejak kejadian itu, dia berubah menjadi anak yang pemurung dan suka menyendiri. Dia tidak berani menghadapi orang-orang. Hatinya senantiasa didera perasaan bersalah. Setiap hari dia sibuk menyalahkan dirinya sendiri dia memvonis dirinya sendiri telah "membunuh" (menyebabkan kematian) adiknya sendiri yang sangat disayanginya. Walaupun orang-orang di sekelilingnya telah berusaha memberi pengertian bahwa kejadian itu adalah sebuah kecelakaan dan dia bukanlah seorang "pembunuh", tetapi tetap saja si kakak tetap merasa bersalah dan sangat menyesal.

Hingga suatu hari, ibunya terbaring sakit. Si kakak setia menemani, sambil dipenuhi rasa takut akan kehilangan lagi.

“Anakku, ibu telah kehilangan anak-anak ibu.”

“Tidak, Bu. Kan masih ada ananda, Bu..” ujarnya sambil terisak.

“Ibu tahu kamu ada tetapi seperti tidak ada. Sejak adikmu pergi, jiwa kamu pun seakan ikut dibawa pergi. Apa lagi yang tersisa untuk kami, ayah dan ibumu? Rumah ini terasa mati tanpa semangat dan keceriaan seperti dulu. Nak, ibu tahu kamu sangat menyayangi adikmu, tetapi dia telah pergi untuk selamanya. Caramu menghukum diri, tidak akan mengembalikan adikmu lagi, bahkan membuat ayah dan ibu tambah bersedih. Ibu rasa, cukup sudah dukamu. Masih ada kami, ayah dan ibumu yang menyayangi dan membutuhkanmu,” ucap si ibu memohon sambil mengusap lelah mata tuanya.

Sambil terisak si anak berkata, “Maafkan ananda, Bu. Selama ini tanpa disengaja telah membuat ibu dan ayah bersedih. Ananda berjanji akan merubah pola pikir dan sikap saya selama ini. Ananda akan berusaha mengubah diri dan membahagiakan ibu serta ayah. Sekali lagi, maafkan ananda, Bu..”Mereka pun berpelukan dalam keharuan.

Sumberhttp://www.andriewongso.com/articles/details/10082/Beri-Kesempatan-Pada-Diri-Sendiri

Cara Mudah Membubuhi Watermark pada Foto

Jakarta - Terkadang, demi alasan keamanan seseorang membubuhkan tulisan atau logo transparan di atas foto jeperetan pribadi atau hasil karya digitalnya. Belakangan sedang marak jual beli via online di mana toko-toko tanpa bangunan fisik sudah jamak bermunculan di internet.

Mereka membangun brand atas koleksi produk yang dijual dan tak jarang foto-fotonya disertai dengan watermark logo toko mereka. Bagi online shop pemula tentu penasaran ingin melakukan hal serupa dengan foto-foto barang jualannya. Trik berikut ini akan menjawab rasa penasaran tersebut.
Tentunya trik ini tidak terbatas pada para online shop, siapa saja bisa menggunakannya (fotografer, desainer grafis atau orang awam sekalipun). Berikut tahapan-tahapannya:

Langkah 1 Membuka File Logo
Buka file logo yang akan digunakan sebagai watermark di Adobe Photoshop. Tekan Ctrl+A (Select All) dan garis putus-putus akan muncul di sekeliling halaman logo lalu Ctrl+C (Copy), berikutnya file logo ini sudah bisa ditutup.




Langkah 2 Membuka File Artwork
Buka file foto atau artwork yang akan diberi watermark. Lalu tekan Ctrl+V (Paste) di atasnya dan file logo yang tadi sudah di-copy kini muncul di atas file foto. Apabila ukurannya terlalu besar, klik Move Tool untuk memunculkan pointer lalu tekan Shift (supaya hasil resize tidak penyet atau tertarik ke sana-ke mari) sambil menekan pointer bagian ujung (yang mana saja).

Geser pointer tersebut ke arah dalam hingga ukurannya menjadi lebih kecil. Lakukan sebaliknya ketika menginginkan ukuran logo menjadi lebih besar, tetapi cara ini tidak disarankan karena bila resolusi gambar logo rendah hasilnya akan menjadi kabur (pixel terpecah-pecah). Apabila ukuran dirasa cukup, klik Enter.





Memposisikan Logo

Sekarang posisikan logo di tempat yang diinginkan selama Move Tool masih aktif, dengan menekan Ctrl lalu posisikan kursor di tengah gambar logo dan geser gambar ke posisi yang dihendaki. Pastikan tidak menutupi fokus utama foto atau karya Anda."


Membuat Logo Menjadi Transparan

Kini saatnya membuat logo menjadi transparan. Perhatikan opsi Opacity di Layer Tab, di sampingnya terdapat angka 100%. Angka tersebut merupakan seberapa banyak transparan yang ditampilkan pada foto, semakin rendah angkanya maka semakin tinggi tingkat transparansi logo Anda.

Klik tombol segitiga di samping angka lalu geser indikatornya ke kiri untuk mendapatkan efek transparan. Tidak disarankan untuk menggeser panel indikator hingga di bawah 20% karena logo akan tampak tenggelam dengan foto dan tidak bisa tampil secara optimal.




Langkah Watermark dengan Tulisan

Tahapan pada langkah 3 adalah tahap terakhir sebelum foto disimpan dalam format .JPG. Namun, bagaimana bila tidak memiliki logo dan hanya ingin menambahkan tulisan watermark saja pada foto? Ikuti tahapan di bawah ini:


Membuka file Artwork

Anda hanya perlu membuka file foto atau artwork lalu mulai membuat tulisan di atas file tersebut. Klik Type Tool, lalu klik dan tarik kursor hingga membuat garis putus-putus berbentuk kotak (ukuran bisa sesuai selera). Posisikan di mana saja tidak menjadi masalah, tulisan bisa dipindah dengan cara seperti memindah posisi logo di tahap ke-3 di atas.

Ketika kotak tersebut sudah terbentuk, mulailah mengetikkan tulisan yang ingin digunakan sebagai watermark. Mengenai jenis font dan ukuran, silahkan melakukan penyesuaian di toolbar di bagian atas yang muncul ketika Type Tool diklik. Warna tulisan yang umum digunakan sebagai watermark adalah warna putih, gunakan Swatches Tab di sisi kanan lembar kerja untuk memilih warna.





Membuat Tulisan Transparan

Ketika tulisan sudah siap, klik Rectangular Marquee Tool atau tool yang mana saja untuk mematikan format Type Tool. Dengan demikian, opsi Opacity bisa diaktifkan (lihat Layer Tab). Pada titik ini, pastikan layer tulisan sudah terpilih, baru kemudian proses transparansi bisa dilakukan. Ikuti tahap ke-4 di atas untuk membuat efek transparan pada tulisan.



mematikan format Type Tool.


Hasil Watermark

Ketika posisi, ukuran dan konten tulisan maupun logo sudah sesuai, silahkan save as dokumen dalam format .JPEG. Hasilnya bisa dilihat pada gambar di bawah.








Penutup
Watermark memang melindungi karya kita dari tindak pembajakan dunia maya, namun bukan berarti kita bisa bebas mengambil foto atau artwork tanpa identitas pemilik lalu menambahkan watermark dan mengakunya sebagai milik kita. Bagaimanapun juga, tindak pembajakan maupun pencurian karya di dunia maya bukan hal yang patut dilakukan dan dapat merugikan orang lain. Selamat mencoba!


Sumber : http://inet.detik.com/read/2013/03/18/104638/2196509/510/cara-mudah-membubuhi-watermark-pada-foto

Sosok Habibie Yang Menginspirasi PKS

Islamedia - Sosok Presiden Republik Indonesia ke 3 Prof. Dr. Ing. BJ Habibie begitu melekat dan inspiratif bagi PKS. Habibie telah mengajarkan bahwa politik dan kekuasaan tidak bisa mengalahkan cintanya yang begitu besar kepada bangsa dan rakyat Indonesia. Karenanya, PKS menobatkan Habibie sebagai Guru Demokrasi Indonesia.

Demikian disampaikan Presiden PKS Muhammad Anis Matta dalam acara Dialog Demokrasi dan Peradaban Internasional yang diadakan Bidang Kebijakan Publik DPP PKS di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (11/4). Hadir sebagai Pembicara utama dalam kegiatan ini Presiden Republik Indonesia ke 3 Prof. Dr. Ing. BJ Habibie.

“Pak Habibie adalah sosok spesial bagi PKS. Inspirasinya mengajarkan bahwa politik dan kekuasaan harus didekati dengan cinta dan bukan untuk kepentingan pragmatis dan golongan semata. Inilah Budaya politik yang menjadi inspirasi bagi PKS,” tegas Anis.

Dialog ini, kata Anis, adalah rangkaian acara untuk memperingati Milad PKS ke 15. Anis menekankan, bagaimanapun PKS adalah partai yang lahir sebagai anak kandung reformasi. Dan, hal itu tidak lepas dari peran Habibie yang membuka keran Demokrasi dan mengantarkan Indonesia melewati transisi di tahun 1999.

“Jangan lupa, PKS atau PK pada waktu itu didirikan dengan tanda tangan Pak Habibie. Kami adalah anak muda yang diberi pintu masuk oleh Pak Habibie untuk ikut serta membangun bangsa melalui jalur politik. Memperingati Milad PKS adalah memperingati reformasi itu sendiri,” jelasnya.

Anis menegaskan, pelajaran penting dari Habibie adalah pada kemampuannya untuk mendekati politik dan kekuasaan dengan cinta. Bagi Habibie, lanjutnya, meninggalkan kekuasaan bukanlah sesuatu yang harus diratapi dengan kesedihan. Inilah Budaya politik yang menjadi inspirasi bagi PKS.

“Seseorang yang merebut kekuasaan dengan cinta maka akan meninggalkan kekuasaan dengan cinta. Cinta yang besar kepada rakyat daripada kepentingan pragmatisnya. Inilah budaya politik yang diajarkan Pak Habibie dan menjadi inspirasi PKS untuk terus berkiprah dalam Demokrasi. Bahwa kekuasaan dan politik adalah sarana untuk menuju kesejahteraan rakyat,” tutup Anis.
Sumberhttp://www.islamedia.web.id/2013/04/sosok-habibie-yang-menginspirasi-pks.html

PKS Anugrahi Habibie Guru Demokrasi Bangsa

Islamedia - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menganugerahi Prof. Dr. Bacharudin Jusuf Habibie sebagai Guru Demokrasi Bangsa. Penghargaan tersebut diberikan PKS atas jasa-jasa Habibie yang memberikan teladan kepempinan yang demokratis selama masa kepemimpinannya yang hanya berusia 16 bulan saat menjadi Presiden RI ke-3 dari tahun 1998 hingga 1999. Penghargaan disampaikan oleh Presiden PKS Muhammad Anis Matta usai serial Dialog Demokrasi dan Peradaban yang digelar dalam rangka Milad PKS ke-15, di Jakarta, Kamis (11/4).

Ketua Fraksi PKS DPRRI yang menjadi penanggungjawab acara Serial Dialog Demokrasi dan Peradaban menyatakan, Habibie meninggalkan pesan demokrasi yang monumental bagi bangsa Indonesia. “Kebebasan pers, keran politik untuk berdirinya parpol baru dan otonomi daerah adalah hanya beberapa dari peninggalan Habibie yang sangat menentukan bangsa ini saat itu,” ujar Hidayat.

Hidayat menyatakan, penghargaan bagi Habibie diharapkan dapat mengingatkan generasi yang saat ini memimpin dan generasi yang lebih muda untuk menjaga nilai-nilai demokrasi yang sudah diletakkan dasar-dasarnya oleh para founding fathers dan disegarkan oleh seorang anak bangsa yang menjadi pemimpin di masa transisi, yaitu B.J. Habibie.

“PKS berharap, Pak Habibie dapat terus memberikn sumbangsih bagi bangsa ini. Menularkan jiwa demokrasi kepada anak-anak muda, dan memotivasi bangsa ini untuk selalu menjaga Indonesia sebagai Negara demokratis terbesar di dunia,” ujar Hidayat.

Sumberhttp://www.islamedia.web.id/2013/04/pks-anugrahi-habibie-guru-demokrasi.html

Kiat Menghindari Pencurian Data Kartu Debit dan Kredit

Jakarta - Akhir-akhir ini sedang hangat dibicarakan mengenai banyaknya nasabah bank Mandiri dan BCA yang kartu ATM maupun kartu kreditnya diblokir secara sepihak oleh bank tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Setelah diselidiki, ternyata nasabah yang kartunya diblokir, sebelumnya menggunakan kartu tersebut untuk berbelanja di gerai-gerai satu merk kosmetik terkemuka.

Ironisnya, data-data yang tersimpan dalam sistem gerai-gerai tersebut dicuri dan bank khawatir data tersebut disalahgunakan untuk pembobolan saldo rekening atau penggunaan kartu kredit tanpa diketahui pemiliknya.

Hal ini tentu merepotkan karena nasabah harus membuat kartu baru dan tentu memakan waktu serta tenaga.

Pada artikel kali ini, penulis coba untuk menjelaskan apa itu pencurian data nasabah dan tips bagaimana menghindari agar tak jadi korban. Apalagi kalau saldo di tabungan terkuras oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Pencurian Data Nasabah

Secara sederhana, pencurian data nasabah bank adalah data-data kita yang disimpan oleh bank dicuri oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dengan berbagai tujuan. Salah satunya adalah untuk membobol rekening debit kita atau limit kartu kredit kita.

Pencurian data nasabah ini bisa dilakukan dengan berbagai cara mulai dari membobol server utama bank, menyusup ke dalam sistem bank atau mengambilnya dari data transaksi di sebuah toko yang melayani pembayaran menggunakan kartu debit atau kredit. Pada kasus ini, data nasabah yang dicuri adalah melalui pencurian data transaksi di toko-toko satu merk kosmetik.

Data yang sudah dicuri (nama, jumlah saldo, nomor rekening sampai password kartu debit atau kredit) kemudian akan digandakan dan dipakai oleh pencurinya.

Terlebih bank jarang sekali mau mengganti kerugian yang diderita nasabahnya walaupun terkadang itu disebabkan oleh kecerobohan bank itu sendiri.

Lalu bagaimana cara menghindari terkena pencurian data nasabah? Berikut tips yang mudah diaplikasikan untuk mencegah hal itu terjadi.

Tips Agar Terhindar Dari Pencurian Data:

1. Ketika membayar menggunakan kartu kredit, jangan lengah dan selalu perhatikan teller atau kasir yang menangani kartu Anda. Pastikan kartu sudah berada di tangan Anda ketika Anda meninggalkan toko atau merchant tersebut.

2. Pastikan Anda menyimpan secara aman tiga atau empat digit terakhir dari nomor di belakang kartu kredit anda. Saat melakukan pembayaran di kasir misalnya, Anda perlu memastikan semua proses transaksi berjalan lancar tak mencurigakan.

3. Simpanlah struk belanjaan Anda untuk dibandingkan dengan billing statement kartu kredit. Dengan begitu Anda bisa tahu transaksi mana saja yang tidak sesuai dengan penggunaan kartu kredit Anda.

4. Jangan asal membayar menggunakan kartu debit atau kredit. Bila nominalnya masih memungkinkan untuk dibayar secara cash (tunai) maka bayarlah dengan uang cash.

5. Hancurkan atau sobek-sobek semua struk transaksi yang menggunakan kartu debit atau kredit sebelum dibuang. Data-data yang tercetak dalam kertas struk bisa disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggungjawab.

6. Jangan pernah memberitahukan pin Anda kepada siapapun dan jangan sampai orang lain melihat kombinasi angka yang Anda masukkan ketika membayar menggunakan kartu debit atau kredit.

7. Selalu berhati-hati dan bijak dalam menggunakan kartu debit dan kartu kredit.

Demikian tips untuk menghindari terkena pencurian data nasabah yang akhir-akhir ini marak terjadi. Selalu teliti dan tidak ceroboh serta mengikuti perkembangan terkini agar tidak menjadi korban kejahatan pembobolan data nasabah bank.


Sumberhttp://inet.detik.com/read/2013/04/01/110435/2208034/510/kiat-menghindari-pencurian-data-kartu-debit-kredit

Hidup adalah Pilihan

Alkisah, ada seorang pemuda tampan yang rajin bekerja dan terkenal ringan tangan menolong sesama. Sayangnya, dia terkadang sulit melakukan beberapa pekerjaan, terkendala karena memiliki kaki yang tidak normal, sehingga agak timpang saat berjalan. Ketidaknormalan ini telah dibawa sejak lahir. Untuk itu dibutuhkan sepasang sepatu yang harus dipesan khusus agar dia bisa berjalan layaknya orang normal .

Suatu hari, si pemuda mendatangi seorang pembuat sepatu yang terkenal. Setelah diukur dengan teliti, si paman pembuat sepatu berkata, “Anak muda, paman pasti buatkan sepasang sepatu yang nyaman dipakai dan kelak akan membuatmu berjalan layaknya orang normal. Nah, sambil paman persiapkan bahan-bahannya, silakan kamu pilih modelnya. Apakah berbentuk bulat di depan atau lancip seperti model sekarang?”

“Terima kasih, Paman. Saya sungguh berharap, sepatu yang dibuat Paman akan membantu saya untuk bisa berjalan layaknya orang normal. Mengenai modelnya.. terserah Paman saja. Saya percaya Paman akan memilihkan yang terbaik!”

Selang dua minggu, sepatu pesanan pun akhirnya selesai dan diantar langsung ke rumah si pemuda. Saat membuka kotak, si pemuda kaget dan takjub memandang sepasang sepatu di tangannya. Sungguh indah dan sangat halus buatannya! Tetapi dengan penasaran dia bertanya, “Paman, sepatu ini sungguh indah sekali. Tetapi kenapa modelnya berbeda antara sepatu yang kiri dengan yang kanan?”

Sambil tersenyum si paman menjawab, “Anak muda. Katamu waktu itu, modelnya terserah paman. Dan menurut paman, itu adalah model yang terbaik untukmu. Jika kamu merasa tidak cocok, itu adalah urusanmu. Ingat anak muda: Jika kamu tidak membuat keputusan dan menentukan pilihan, sama artinya kamu membiarkan orang lain yang akan memutuskan dan menentukan pilihan untukmu!”

Mendengar hal itu, si pemuda tersentak. Katanya, “Terima kasih Paman. Ini adalah pelajaran yang luar biasa buat saya dan sebagai pengingat, saya akan pajang sepasang sepatu ini di tempat yang mudah terlihat untuk peringatan jika saya tidak bisa menentukan pilihan maka orang lain yang akan membuat pilihan untuk saya."

Sumber : http://www.andriewongso.com/articles/details/10062/Hidup-adalah-Pilihan